Apa bedanya teleskop refraktor dengan teleskop reflektor?

Ini adalah salah satu pertanyaan yang sering kita tanyakan ketika hendak membeli teleskop. Karena itu, artikel ini membahas mengenai prinsip kerja kedua jenis teleskop ini.

Teleskop Refraktor

Teleskop refraktor telah ada selama berabad-abad. Pada tahun 1610, Galileo menggunakan sebuah refraktor kecil untuk mengamati fase Venus dan mengamati kawah di bulan. Dengan itu ia menemukan 4 satelit pertama Jupiter dan mengamati bentuk aneh Saturnus. Teleskop Galileo memiliki bukaan 2 inci, yang cukup kecil menurut standar zaman sekarang. Selain itu, karena kurangnya kualitas optik di zaman itu, dia tidak dapat menyelesaikan misteri bentuk Saturnus yang aneh. Sekitar 50 tahun kemudian, peningkatan kualitas optik memungkinkan pengamat untuk mengamati penyebab bentuk aneh Saturnus, yakni cincin-cincin di sekitar planet ini.

Refraktor bekerja dengan prinsip pembiasan, yakni pembelokan cahaya. Cahaya masuk melalui lensa di bagian depan tabung. Lensa ini disebut lensa objektif. Nilai diameter lensa inilah yang disebut sebagai bukaan pada teleskop refraktor. Cahaya dibiaskan sepanjang tabung, hingga pada akhirnya mencapai bidang fokusnya (di mana cahaya menjadi terfokus pada titik tertentu). Di sana, terdapat eyepiece yang terpasang di focuser, sehingga memungkinkan cahaya itu diperbesar menjadi gambar yang bisa diamati. Soal kualitas gambar, semakin baik kualitas dan keselarasan optik, semakin baik citra yang dihasilkan oleh refraktor. Sebenarnya, pernyataan ini berlaku untuk semua teleskop.

Refraktor adalah instrumen yang sangat serbaguna. Dengan eyepiece yang tepat, mereka dapat digunakan untuk mengamati ketika siang atau malam hari. Dengan kualitas optik yang baik, refraktor dapat memberikan detail yang luar biasa. Refraktor kecil juga mudah untuk dibawa ke mana-mana. Sayangnya, refraktor kualitas tinggi cenderung sangat mahal karena biaya yang terkait dengan produksi optik berkualitas tinggi. Salah satu faktor menurunnya pamor refraktor murah adalah karena dalam pengamatan astronomis visual, mereka cenderung menambahkan warna palsu pada gambar. Ini disebut cacat warna. Warna-warna ini biasanya berbentuk lingkaran ungu pucat di sekitar benda yang diamati. Namun, ada banyak refraktor level pemula dengan optik bagus, sehingga efek ini bisa diminimalkan.

Teleskop Reflektor

Reflektor adalah desain teleskop yang ditemukan oleh Isaac Newton pada tahun 1660-an. Refektor tidak menggunakan lensa, tetapi dua buah cermin untuk membawa cahaya ke eyepiece. Reflektor menggunakan prinsip pemantulan cahaya. Cahaya bergerak ke tabung ke cermin utama, yang merupakan cermin yang lebih besar. Cermin ini disebut cermin objektif atau cermin primer. Diameter cermin ini adalah nilai bukaan pada sebuah teleskop reflektor. Cermin utama umumnya berbentuk paraboloid (cekung). Ini memantulkan cahaya kembali ke cermin sekunder.

Dalam teleskop reflektor Newtonian, cermin sekunder adalah elips dengan permukaan datar yang dipasang pada sudut 45 derajat pada perangkat yang biasa disebut spider (laba-laba). Cahaya dipantulkan dari cermin sekunder ke eyepiece, sehingga bisa diperbesar menjadi gambar yang bisa diamati.

Untuk harga yang sama, reflektor menawarkan bukaan yang lebih besar. Teleskop reflektor menghasilkan gambar tajam yang bebas dari warna tambahan. Namun, secara optik, ada dua kekurangan reflektor:

1) Laba-laba yang menahan cermin sekunder membentuk halangan terpusat yang menghasilkan pola difraksi. Ini paling terlihat pada perbesaran tinggi pada benda terang. Lihatlah gambar di bawah ini. Apakah terlihat 4 ‘duri’ yang datang dari bintang terang di tengah? Ini adalah pola difraksi yang disebabkan oleh laba-laba dengan empat baling-baling.

2) Karena bentuk cermin primer, reflektor mengalami kondisi yang disebut koma. Ini memiliki efek membuat objek di tepi luar bidang pandang terlihat berbentuk melengkung atau terlihat seperti komet kecil. Ini bukan masalah besar untuk pengamatan visual, karena pengaruhnya paling mencolok hanya di bagian paling luar dari medan pandang dan tidak ada sama sekali di pusat medan pandang, dimana sebagian besar pengamatan kita dilakukan. Selain itu, beberapa desain eyepiece bekerja dengan baik dalam menetralkan efek ini.

Sekali lagi, jangan biarkan karakteristik ini membuat Anda takut untuk memilih teleskop reflektor. Pertimbangkan ini, banyak teleskop besar di observatorium-observatorium dunia menggunakan sistem reflektor.

Meskipun tidak ada yang namanya teleskop yang sempurna, untuk pengamatan visual, reflektor 6″ f/5 sampai f/7 yang dirancang dengan baik dengan cermin yang baik dan selaras (terkolimasi) di atas dudukan Dobsonian, adalah kombinasi yang bagus, murah, dan tahan bertahun-tahun. Ini akan memberikan pemandangan bulan dan planet yang bagus serta memiliki cukup daya perbesaran untuk melihat banyak benda langit dalam langit yang gelap.

Bonus: Teleskop Katadioptri

Teleskop Katadioptri pada dasarnya adalah kombinasi dari refraktor dan reflektor. Ada dua varian yang sangat populer dan banyak tersedia di pasar teleskop saat ini. Yang pertama adalah Schmidt-Cassegrain, dan yang lainnya adalah Maksutov-Cassegrain. Teleskop ini melipat jalur cahaya tiga kali, sehingga ukuran tabung jauh lebih pendek untuk sebuah panjang fokus. Karena penggunaan lensa korektif dan tidak ada laba-laba yang menahan cermin sekunder, mereka bebas dari banyak cacat optik yang ada pada refraktor dan reflektor.

Cahaya memasuki bagian depan tabung melalui lensa korektif. Cahaya kemudian menyusuri tabung ke cermin utama. Dari sana, cahaya dipantulkan oleh cermin primer pada tabung ke cermin sekunder yang kemudian memantulkan cahaya kembali melalui tabung menujubidang fokus.

Mekanisme fokus teleskop katadioptri berbeda dari pada reflektor dan refraktor. Alih-alih memindahkan eyepiece masuk dan keluar dari bidang fokus, sistem katadioptri menggerakkan cermin utama masuk dan keluar. Karena desain yang lebih rumit, konstruksi dan pemasangan tabung teleskop ini dipikirkan dan diterapkan dengan lebih baik. Teleskop katadioptri bisa sangat mahal, tetapi teleskop katadioptri yang bagus cukup asyik untuk dimiliki dan digunakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *