Apa Saja Jenis-Jenis Dudukan Teleskop?

Seperti yang kita tahu, teleskop yang baik memerlukan dudukan/mounting yang memadai, sehingga nyaman digunakan. Selain itu, dudukan yang baik juga dapat mengarahkan teleskop ke arah objek dengan mudah.

Lebih lagi? Tergantung kebutuhan. Bagi para pemotret langit, kemampuan pelacakan yang konsisten dan stabil adalah sebuah kualitas yang dicari.

Setiap objek astronomi memiliki alamat (koordinat) yang spesifik pada peta langit. Saat kita hendak mengunjungi rumah seorang kerabat untuk pertama kali, kita mungkin melakukan satu dari dua hal ini: mencarinya sambil melihat peta atau memilih untuk menanyakan arah kepada warga setempat.

Begitu pula dengan pencarian objek dalam astronomi. Ada beberapa jenis tata koordinat. Dua yang umum dipakai adalah tata koordinat horison dan tata koordinat ekuatorial. Tata koordinat horison memiliki sumbu sudut putar (azimuth) dan ketinggian (altitude). Karena itu, tata koordinat horison disebut juga tata koordinat AltAz. Bidang dasar koordinat ini adalah sebuah lingkaran di bawah pengamatnya (bidang horison). Objek yang diamati berada di atas bidang ini dengan alamat berupa ketinggian (sudut yang diukur terhadap bidang dasar) dan azimut (sudut yang diukur dari arah kutub utara).

Dalam pengamatan astronomi, tata koordinat ekuatorial berpusat pada bumi. Dalam hal ini, tata koordinat ekuatorial terlihat lebih ribet. Ini karena pola pikir yang berbeda dengan AltAz. Ia menggunakan bidang dasar berupa bidang ekuator langit pengamatan. Alamat objek dalam sistem ini adalah koordinat asensiorekta (sudut yang diukur dari titik gamma) dan deklinasi (sudut ketinggian terhadap bidang ekuatorial langit). Objek yang diincar berada pada keliling dari sebuah lingkaran pada deklinasi tertentu. Tidak masalah jika pada awalnya kita tidak sepenuhnya memahami kedua jenis koordinat ini.

 

Mounting AltAz

Sesuai namanya, dudukan ini menggunakan sistem koordinat AltAz. Contoh yang sering kita lihat adalah tripod fotografi. Kelebihan utama dari jenis ini adalah sistemnya yang sederhana. Sebab itu, jenis ini banyak dicari dan diproduksi. Karena sistem yang sederhana dan banyak permintaan, harganya relatif terjangkau. Salah satu model dudukan ini yang ekonomis adalah Dobsonian. Mounting AltAz paling sering digunakan dengan teleskop reflektor Newtonian. Jika kita memiliki dudukan jenis AltAz, kita dapat menemukan sebuah objek hanya dengan melihat koordinat AltAz nya untuk saat ini, arahkan, dan langsung amati. Ini juga berarti pengamatan medan di siang hari menjadi mudah.

Mounting AltAz klasik

Namun, terdapat beberapa kekurangan dudukan jenis AltAz. Pertama, ada titik buta zenith, yakni 0,5-0,75 derajat pada langit tepat di atas teleskop. Kedua, sistem pelacakan (tracking) objek yang susah. Ini karena kita harus menggerakkan dua sumbu pada saat yang bersamaan. Masalah pelacakan ini dapat diselesaikan jika mounting AltAz kita memiliki motor yang terkomputerisasi. Ketiga, orientasi medan pandang citra terus berubah dari waktu ke waktu. Hal ini buruk bagi astrofotografi, dimana medan pandang yang dilihat seharusnya konsisten dari waktu ke waktu. Namun, masalah orientasi ini dapat diperbaiki dengan software komputer.

Mounting Dobsonian dan Reflektor Newtonian di atasnya.

Mounting Ekuatorial

Secara koordinat, sistem ini memang terlihat lebih kompleks. Pengamat harus mengatur lintang posisinya sebelum menggunakan teleskop dengan dudukan ini. Ditambah lagi, karena tabung teleskop harus seimbang dalam posisi ekstrim, dibutuhkan beban penyeimbang yang harus dikalibrasi sebelum mulai mengarahkan teleskop.

Namun, terdapat sebuah keuntungan utama dari teleskop dengan mounting ekuatorial yang telah disejajarkan dan diseimbangkan dengan baik: teleskop dapat diarahkan ke mana saja dan melacak objek apapun di atas horison! Terima kasih kepada sistem yang sederhana, saat kita mengarahkan teleskop ke suatu objek dan ingin melacaknya terus-terusan, kita hanya perlu memutar satu sumbu, yakni sumbu asensiorekta (RA). Ini karena objek-objek yang ada di langit terlihat berputar pada sebuah keliling lingkaran yang paralel/sejajar dengan bidang dasar ekuatorial. Contoh dari dudukan ekuatorial adalah German Equatorial Mount (GEM) dan Fork Mount.

Mounting Ekuatorial berjenis German Equatorial Mount (GEM)

Ini juga membuat astrofotografi menjadi lebih memuaskan. Ditambah motor yang membuat pelacakan menjadi otomatis, maka astrofotografi dengan dudukan ekuatorial adalah hal yang jauh lebih nyaman dibandingkan dengan dudukan AltAz.

Sayangnya, hal ini harus dibayar dengan harga yang lebih mahal daripada dudukan AltAz.

Sebuah peribahasa berbunyi,

“Tak ada gading yang tak retak.”

Dalam memilih dudukan, solusi yang terbaik tentunya adalah menyesuaikan pilihan mounting dengan kebutuhan (beban teleskop) dan budget yang kita miliki. Apabila beban teleskop melebihi daya topang mounting, maka pengamatan menjadi tidak nyaman, malahan bisa mencelakakan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *